Kampoeng Cyber – PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI STUDY DI KAMPUNG CYBER

Berwisata Sejarah di Kampung Cyber Yogyakarta

Cyber RT

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI STUDY DI KAMPUNG CYBER RT. 36 TAMAN, PATEHAN, KRATON, YOGYAKARTA

Pernahkan Anda terbayang untuk berwisata sejarah di tengah perkampungan ‘melek’ teknologi? Yah, Taman Sari Yogyakarta menyediakan keunikan tersebut.

Taman sari merupakan istana yang di Bangun Sultan Hamengkubowono I pasca perjanjian Giyanti pada 1757. Saat ini tempat tersebut telah menjadi salah satu tujuan wisata di Yogyakarta. Bangunannya sendiri di rancang oleh seorang arsitek Portugis bernama Demak Tegis yang memiliki beberapa bagian ruangan. Ruangan apa saja itu? Diantaranya ada kolam pemandian, ruang pribadi sultan, menara, gapura agung, lorong-lorong penghubung dan ruang bawah tanah, serta masjid bawah tanah yang di dalamnya terdapat sumur Gumuling.

Apa yang terlintas di benak Anda ketika melihat bangunan-bangunan kokoh tersebut? Pastinya Anda akan membayangkan kehidupan istana ratusan tahun lalu, seperti aktifitas kerajaan yang dilakukan pada setiap bagian-bagian bangunan tersebut.

Diantaranya tempat semedi Sultan sekaligus tempat beliau menyusun strategi perang, tempat mandi Raja, Ratu, dan anak-anaknya yang dibedakan, tempat raja menikmati keindahan istana dari sebuah menara sekaligus tempat memilih selir yang akan menemaninya, tempat bercermin pada sebuah bejana air yang indah dimana istri-istri Sultan harus menunggu air dalam bejana tersebut tenang baru bisa menundukan kepala untuk memperbaiki riasan dan sanggul, tempat ibadah yang tenang di sebuah masjid bawah tanah yang dilengkapi tempat berwudhu dari sebuah sumur bernama sumur Gumuling, dan masih banyak lagi.

Namun pemandangan yang kontras akan anda rasakan setelah keluar dari bangunan istana menuju perkampungan di baliknya. Kampung Cyber Rt 36, itulah  kawasan perkampungan satu-satunya di Indonesia dengan full jaringan internet. Di perkampungan yang mengelilingi Taman Sari ini, Anda bisa menikmati layanan wifi gratis terutama di pos-pos ronda yang ada.

Seluruh rumah warga kampung tersebut juga dilengkapi dengan kabel-kabel jaringan sehingga memungkinkan seluruh warganya dapat mengakses internet dengan mudah. Jaringan internet dari rumah-rumah warga tersebut berpusat dan dikendalikan dari rumah Ketua RT setempat.

Konsep kampung wisata cyber yang digagas oleh mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) dan resmi dibuka pada Juni 2009 tersebut memang menarik dan menginspirasi. Dengan konsep ini, akses ke dunia maya tidak lagi dinikmati oleh warga-warga perkotaan saja. Internet sebagai hasil dari perkembangan teknologi modern kini mampu merangkul warga perkampungan. Semoga, perkampungan-perkampungan lain di seluruh Indonesia segera menyusul Kampung Cyber ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *